Catatan Seorang “Pemula”

14107659_130061297441664_5596813970949759756_o

“Bertambah usia bukan berarti melemah, masih belia tak berarti tak tahu apa-apa”.
Beraktivitas itu bukan masalah usia atau belianya, masalah niat atau tidak niatnya sepertinya. Karena kita sendiriah yang tahu batas kemampuan kita, tapi kadang kalau kamu tidak gali lebih dalam, kamu malah tidak tahu sebatas apa kemampuanmu sampai kamu mencobanya. Tante yang super keceh satu ini mencobanya, mungkin meski awalnya ragu atas keterbatasan kemampuan fisik, tapi beliau memutuskan untuk mendaki Pangrango!Berikut beliau bercerita…

——–

29 Juli-31 Juli 2016

Mendaki gunung tidak pernah terlintas di benakku.Untuk ‘Clean Freak’ seperti aku,bayangan buang hajat dengan menggali lubang,lebih horor ketimbang nonton Conjuring 1 & 2 sekaligus😱😷😷.But,there is always a first time for everything,berawal dari foto ibu-ibu hebat di Puncak Gunung Gede & mendengarkan serunya cerita mereka,kok aku jadi kepingin juga yaa…beneran seru ga siy? So,begitu ada tawaran dari Teh Ossy untuk ikut ke Gunung Pangrango,aku langsung daftar…apalagi ada mba mella,sosok pendaki kawakan yang sudah lama kukenal hehehe.

Berkat ‘Magical cat sand’ yang dapat merubah kotoran menjadi wangi, masalah toiletku teratasi. Selanjutnya adalah menyiapkan matching apparel warna mencolok biar gampang dicari kalo nyasar (amit-amit) & hiking gear (not a problem,i love this part👍),menyiapkan fisik (nyapu-ngepel 2 rumah atas-bawah plus nyikat cucian tiap hari,sepertinya cukup sebagai modal😅),menyiapkan mental dengan browsing pengalaman pendaki-pendaki pemula yang baru pertama kali mendaki Pangrango.Hal ini membantu mengenali medan yang akan dihadapi dan menguatkan semangat bahkan ketika jumlah peserta terus berguguran dari 30 jadi tinggal 14 orang,aku tetap bertahan (eeaa..)

Hari keberangkatan pun tiba,kami menuju Cibodas dengan menumpang beberapa mobil pribadi.Cibodas-Kandang Badak kami tempuh selama sekitar 7 jam,maklum pesertanya sudah 40-an dan hobi banget foto-foto😅.

Treknya didominasi trap-trap tangga batu yang tingginya gak beraturan (kadang normal,kadang tinggi banget) & melintasi jeram air panas yang batunya licin & bersebelahan dengan jurang.Sampai di kemah, sempet kepikiran,” trek menuju kemah aja parah kayak gitu,gimana summitnya??😵” Malamnya,asli ga bisa tidur akibat setengah homesick gegara tidur bertiga di tenda yang sempit dan setengah galau karena takut besok nggak nyampe summit.

Paginya,kulihat wajah-wajah yang antusias ,bahkan Mba Dian Permata yang sakit & Mba Shelvie yang sepatunya mangap pun tetap semangat untuk summit attack.Semangat mereka sepertinya berimbas kepadaku,setengah galau berkurang jadi seperempat 😅.Coach memberi arahan supaya kami menjaga sikap,mental & pikiran untuk selalu positif,menikmati pemandangan sambil mengagungkan Sang Pencipta,ga usah mikirin kapan nyampe,jalan aja terus insyaAllah nanti juga sampe.

Kami berangkat dengan merendahkan hati,tawakkal & penuh harap.Trek summit ternyata lebih menarik, penuh dengan adegan meloncati pohon-pohon besar yang tumbang di sana sini,merayap di jalan air dan manjat dengan berpegangan pada akar-akar pohon (serasa di film action deh😉), cuma tanjakannya itu yang amit-amit,the road is never flat!!

Untungnya,coach berbaik hati memberi waktu yang cukup untuk berfoto sepanjang jalan (sepertinya coach paham bahwa itu suplemen paling ampuh untuk menjaga semangat kami 😅).

Setelah 4 jam pendakian,tibalah kami di Puncak Pangrango 3019 mdpl,Alhamdulillaaahh!Terima kasih Allah yang telah memberikan tim yang selalu saling menyemangati sehingga kami bisa mencapai puncak bersama-sama.Gundah Gulana hilang,berganti dengan celoteh riang & wajah-wajah ceria yang siap difoto..cheese📷!
Setelah puas berfoto-foto di summit,kami turun ke Mandalawangi untuk ishoma dan foto-foto📷(lagi)…pastinya.

Pemandangan Mandalawangi yang didominasi edelweis dan berselimut kabut tipis membuat suasana terasa ‘out of this world’,menginspirasi kami untuk menciptakan pose-pose yang aneh bin ajaib pula.

Tiba waktunya turun gunung,,,pengen ngegelundung,takut sakit,,,pengen serodotan, takut celana sobek…jalan aja deh,paling kalo ketemu trek ‘ajaib’ aku langsung protes,”Kayaknya tadi ga lewat sini dehhh,,,ga salah jalan nehh??”Perjalanan turun memakan waktu 3 jam (sekali lagi, ini kecepatan ibu-ibu usia 40 tahun loh yaaa..).O ya,untuk naik-turun summit trekpoll kurang berguna,malah kadang merepotkan ketika kita harus manjat-manjat.

Sampai di tenda,suasana penuh canda tawa karena misi summit sudah tercapai dan besok kami akan berkumpul kembali dengan keluarga tercinta.Malam itu, aku tidur pulasss seperti bayi😴.

Paginya, kami turun menuju Cibodas,kali ini ‘hanya’ 6 jam.Trekpoll sangat bermanfaat untuk mensupport kaki yang mulai gemetar karena pegal.Lambat laun terdengar suara-suara musik yang menandakan bahwa kami sudah mendekati pintu keluar Cibodas,bye…bye..Pangrango.Setelah ishoma di basecamp,kami mengakhiri perjalanan dengan bersalam-salaman dan pulang membawa sejuta kenangan & lutut yang ‘nyut-nyutan’😅.

Selama 3 hari, kami belajar betapa pentingnya mempersiapkan sebuah pendakian,belajar menahan ego untuk melaju ketika ada teman yang tertinggal jauh di belakang,saling menyemangati & bertenggang rasa serta belajar menerima kondisi yang seadanya.Perjalanan ini melatih kami untuk terus optimis dan selalu ingat kepada Allah yang Maha Kuasa & Maha Penolong.

Terima kasih untuk Coach Arief,Pak Soleh & Pak Lukman yang sudah sangat sabar mendampingi kami😊 dan berbaik hati membawakan sebagian barang-barang kami💪.

Terimakasih utk kakak-kakak SM3 yang sudah ikut meramaikan pendakian,kalian superr sekali💪💪💪.

Terima kasih untuk teman-teman yang sudah menemani & saling menyemangati😚😚😚: Teh Ossy & Paksu,Mba Mella,Mba vira & Paksu,Mba Dian Permata,Mba shelvie,Mba Wiwik,Mba Ade,Mba Dian Candra,Mba Mei,Mba Wulan dan last but not least my BFF,Irana Leila Meriam.

Tanpa teman perjalanan seperti kalian,pendakian akan sangat membosankan dan mungkin sejak day-1 aku sudah minta pulang ke Bogor hehehee…Berharap bisa menyertai kalian dalam pendakian berikutnya,SALAM DATAR😃💪💪💪!!!
By : Sapta Noveriani

Comments
  1. shinta
    • Gita Pramesari
  2. rain

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *